Jerat Pupuk Palsu: Ladang Jadi Lumbung Utang Petani

Utang KUR dan gagal panen menghantui petani akibat pupuk oplosan. Mentan bersumpah membersihkan lapak mafia demi mimpi jadi lumbung pangan dunia.

Avatar photo

- Pewarta

Minggu, 13 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Dok. presidenri.go.id)

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Dok. presidenri.go.id)

SORE itu di sebuah hamparan sawah di Maros, Sulawesi Selatan, La Ode hanya bisa menatap padi-padi yang menguning prematur.

Daun-daun meranggas, batangnya kering, tak seperti musim panen sebelumnya.

“Saya sudah pupuk dua kali, tapi hasilnya begini,” gumamnya getir sambil meremas segenggam tanah yang retak-retak.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

La Ode baru saja menyadari pupuk yang ia beli dengan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) ternyata palsu. Sawahnya gagal panen.

Utangnya kini membengkak, sementara pupuk oplosan yang ia beli sudah raib dari pasar. Kasus seperti yang dialami La Ode ternyata bukan cerita tunggal.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan sedikitnya ada lima jenis pupuk palsu yang berhasil ditemukan timnya dalam beberapa bulan terakhir.

Jumlah kerugian petani akibat ulah mafia pupuk itu diperkirakan mencapai Rp3,2 triliun secara nasional.

“Bayangkan, kalau pupuknya palsu, itu kerugian petani. Ini pinjaman KUR, petani bisa langsung bangkrut,” kata Amran dalam pernyataannya di Makassar, Sabtu (12/7/2025).

Mentan menyayangkan masih maraknya pihak-pihak yang tega mempermainkan nasib petani kecil dengan menjajakan pupuk oplosan di pasaran.

Menurutnya, tindakan itu bukan saja melanggar hukum, tetapi juga tidak etis dan merusak ketahanan pangan nasional.

“Ini yang harus kita bereskan. Selama kami di pertanian, kami fokus ingin pertanian Indonesia berjaya,” tegas Amran.

Jejak Mafia Pupuk: Dari Gudang Oplosan hingga Sawah Sengsara

Dalam penelusuran Tim Investigasi Kementerian Pertanian, ditemukan modus lama yang kembali dipoles.

Para mafia pupuk menyelundupkan pupuk subsidi untuk kemudian dicampur dengan bahan-bahan lain, lalu dikemas ulang dengan label tiruan.

Harganya hanya sedikit lebih murah dari harga resmi, namun kualitasnya tak lebih dari bubuk kapur.

Hasil panen jelas anjlok, bahkan banyak sawah yang justru jadi kering kerontang.

Pakar pertanian menilai fenomena ini sebenarnya sudah lama menjadi rahasia umum.

Namun minimnya pengawasan di tingkat bawah membuat mafia pupuk masih leluasa bermain.

“Petani sering tak sadar karena kemasannya persis seperti asli. Begitu panen gagal, sudah terlambat,” ujarnya.

Ironisnya, sebagian besar petani membeli pupuk itu dengan modal pinjaman program KUR yang disalurkan melalui bank-bank BUMN.

Alhasil, gagal panen membuat mereka terjerat utang yang makin menumpuk. Bank tetap menagih cicilan, sedangkan sawah tak lagi menghasilkan.

“Kalau sudah begini, banyak yang terpaksa menjual tanah. Ini praktik yang sangat merugikan petani kita,” ucap Amran.

Pemerintah sendiri mengaku masih merahasiakan detail lokasi temuan dan jenis pupuk palsu itu demi kepentingan penyelidikan.

Namun, Menteri Pertanian memastikan akan bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menjerat para pelaku.

“Tidak ada kompromi bagi mafia pupuk. Kami akan tindak tegas sesuai hukum,” katanya.

Mimpi Swasembada Pangan di Tengah Ancaman Pupuk Oplosan

Masih segar di ingatan publik pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang target menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Ambisi besar itu jelas membutuhkan pondasi kuat di tingkat paling bawah: petani. Namun, ulah mafia pupuk justru melemahkan semangat para petani kecil untuk berproduksi.

Mentan Amran pun menegaskan komitmennya terhadap arahan presiden. Ia berjanji membenahi rantai distribusi pupuk dan menutup semua celah permainan kotor.

“Kami ingin Indonesia menjadi lumbung pangan dunia seperti perintah Bapak Presiden,” ucap Amran.

Dalam pandangan pengamar agribisnis, persoalan pupuk palsu adalah contoh klasik lemahnya pengawasan pemerintah.

Ia mendorong audit menyeluruh atas rantai distribusi pupuk, termasuk pelaku usaha di sektor hilir.

“Kalau tidak ada tindakan nyata, mafia ini hanya pindah lokasi dan modus. Petani lagi-lagi jadi korban,” ujarnya.

Bagi petani seperti La Ode, janji-janji itu terdengar manis namun ia berharap bukan sekadar wacana.

Dengan utang yang kini menjerat lehernya, ia hanya ingin satu hal: bisa menanam kembali dengan pupuk asli, lalu menuai panen tanpa rasa waswas.***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infotelko.com dan Infoekonomi.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media 23jam.com dan Haiidn.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Hallotangsel.com dan Haisumatera.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

Press Release Berbayar: Cara Praktis Memastikan Pesan Perusahaan Sampai ke Publik
Manipulasi Harga Beras Premium Diungkap, DPR Dorong Sanksi Hukum Tegas
Momentum Pembelian Saham Energi Saat Pasar Tekanan Global
Raja Ampat Bangkit dari Ancaman Tambang: Kini Hanya Nikel yang ‘Gag’ Bertahan
CSA Index Juni 2025 Refleksikan Momentum Kembalinya Kepercayaan Pasar
Ketika Kunci Keberhasilan Koperasi Desa Dititipkan di Tangan Badan Usaha Milkik Negara (BUMN)
PT Bank Raya Indonesia Tbk Masuk Jajaran 3 Besar Bank Digital Terbaik Versi Majalah Infobank
Soal Tumpang Tindih antara Kopdes dengan Badan Usaha Milik Desa, Pemerintah Klaim Telah Lakukan Antisipasi

Berita Terkait

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 06:14 WIB

Press Release Berbayar: Cara Praktis Memastikan Pesan Perusahaan Sampai ke Publik

Kamis, 17 Juli 2025 - 08:25 WIB

Manipulasi Harga Beras Premium Diungkap, DPR Dorong Sanksi Hukum Tegas

Minggu, 13 Juli 2025 - 10:55 WIB

Jerat Pupuk Palsu: Ladang Jadi Lumbung Utang Petani

Senin, 7 Juli 2025 - 18:28 WIB

Momentum Pembelian Saham Energi Saat Pasar Tekanan Global

Rabu, 11 Juni 2025 - 18:42 WIB

Raja Ampat Bangkit dari Ancaman Tambang: Kini Hanya Nikel yang ‘Gag’ Bertahan

Berita Terbaru